Pulau Dua
Cagar Alam Pulau Dua juga berada di wilayah Serang yang terletak dilepas pantai Banten dan merupakan...selanjutnya
Krakatau Jungle Park
Arena rekreasi di pusat kota ini dikelola olah PT.KIEC yang berada di JL. kalimantan tepat di depan ...selanjutnya
Masjid Pecinan Tinggi - Banten Lama
Terletak kurang lebih 500 meter kearah barat dari Masjid Agung Banten dan reruntuhan Istana Suroso...selanjutnya
Pantai Karang Bolong - Anyer
Menurut legenda masyarakat setempat, nama karang bolong ini dulu adalah karang suraga karena berat...selanjutnya
Artikel Lain
Tradisi keramasan petingtung merupakan tadisi yang diturunkan secara turun temurun di kalangan perguruan-perguruan silat bandong di Banten. Tradisi ini menyrupai tradisi panjang jimat yang biasa dilakukan di kraton-kraton tanah jawa, jika di lihat dari sisi waktu pelaksanaan prosesi keramasan petintung.
Batu Menhir peninggalan tradisi Megalitik dengan bentuk segilima ini berada di tengah pesawahan berjarak 100 meter dari Kp. Lingga. Batu ini terdapat di salah satu areal sawah dengan posisi terpisah menjadi 5 bagian yang dipagari oleh pagar besi dengan luas.
Liburan bersama seluruh anggota keluarga merupakan momen liburan yang sangat di nantikan oleh setiap keluarga. Mencari tempat liburan mungkin banyak pertimbangan yang harus dipikirkan diantaranya adalah pertimbangan biaya dan waktu atau jarak tempuh dari rumah menuju tempat wisata yang.
Situ Cipanganten merupakan pemandian sebagaimana umumnya pemandian sumber mata air, tetap mungkin sedikit berbeda dengan pemandian yang satu ini. Pemandian yang letaknya agak sedikit tersembunyi dari keramaian yaitu di tengah pesawahan penduduk. Pemandian ini untuk kalangan tertentu yang mempercayai mempunya.
Situs Batu Qur`an adalah salah satu jejak peninggalan Sultan VII Kesultanan Banten yaitu Sultan Maulana Mansyur yang sekarang makamnya sering diziarahi oleh para penziarah di daerah Cikadueun Kabupaten Pandeglang yang sekarang lebih di kenal dengan gelar Syeh Maulana Mansyur.
Sejarah Perkambangan Banten
Kesultanan Banten berawal ketika Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1524/1525, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak merebut pelabuhan Banten dari kerajaan Sunda, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Demak. Menurut sumber Portugis, sebelumnya Banten merupakan salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda selain pelabuhan Pontang, Cigede, Tamgara (Tangerang), Sunda Kalapa dan Cimanuk.
Anak dari Sunan Gunung Jati (Hasanudin) menikah dengan seorang putri dari Sultan Trenggono dan melahirkan dua orang anak. Anak yang pertama bernama Maulana Yusuf. Sedangkan anak kedua menikah dengan anak dari Ratu Kali Nyamat dan menjadi Penguasa Jepara. Terjadi perebutan kekuasaan setelah Maulana Yusuf wafat (1570). Pangeran Jepara merasa berkuasa atas Kerajaan Banten daripada anak Maulana Yusuf yang bernama Maulana Muhammad karena Maulana Muhammad masih terlalu muda. Akhirnya Kerajaan Jepara menyerang Kerajaan Banten. Perang ini dimenangkan oleh Kerajaan Banten karena dibantu oleh para ulama.
Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat. Wilayah kekuasaannya meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut kesultanan Mataram dan serta wilayah yang sekarang menjadi provinsi Lampung. Piagam Bojong menunjukkan bahwa tahun 1500 hingga 1800 Masehi Lampung dikuasai oleh kesultanan Banten.
Pada zaman pemerintahan Sultan Haji, tepatnya pada 12 Maret 1682, wilayah Lampung diserahkan kepada VOC. seperti tertera dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de Saint Martin, Admiral kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten. Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian tanggal 22 Agustus 1682 yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung.
Kesultanan Banten dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada tahun itu, Sultan Muhamad Syafiuddin dilucuti dan dipaksa turun takhta oleh Thomas Stamford Raffles. Tragedi ini menjadi klimaks dari penghancuran Surasowan oleh Gubernur-Jenderal Belanda, Herman William Daendels tahun 1808.
.